Transformasi Pendidikan Madrasah: MTs Negeri Salatiga Gelar IHT Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta

SALATIGA – MTs Negeri Salatiga sukses menyelenggarakan kegiatan peningkatan kompetensi guru melalui In House Training (IHT) Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan yang bertempat di Aula MTs Negeri Salatiga ini dihadiri oleh guru-guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kota Salatiga, pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 s.d. 15.00 WIB ini menghadirkan narasumber ahli, Septy Andari Putri, S.Pd., M.Pd. Beliau merupakan Kepala MTs Negeri 3 Kulon Progo yang juga menjabat sebagai Tim Pengembang Kurikulum Madrasah pada Direktorat KSKK Kemenag RI, serta Narasumber Nasional Pembelajaran Mendalam di BSKAP Kemendikdasmen.

Kegiatan diawali dengan sambutan pembukaan oleh Kepala MTs Negeri Salatiga, Drs. H. Faisal Bahar Susanto, M.Ag. pada pukul 08.00 WIB. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya adaptasi guru terhadap paradigma pendidikan yang terus berkembang.

“Madrasah tidak hanya tempat transfer ilmu, tetapi ruang menanamkan nilai. Melalui IHT ini, kita berikhtiar agar guru-guru di Salatiga mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya menyentuh akal (deep learning), tetapi juga menyentuh hati melalui pendekatan kasih sayang atau Kurikulum Berbasis Cinta,” ujar beliau.

Menyelami Deep Learning dan KBC

Sesi inti IHT dimulai pukul 09.00 WIB. Bu Septy memaparkan materi dengan pendekatan yang interaktif dan reflektif. Ia mengajak para peserta untuk mengubah pola pikir (mindset) dari sekadar mengejar ketuntasan materi menuju pemahaman yang mendalam dan bermakna.

Dalam paparannya, Bu Septy menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukanlah kurikulum baru yang terpisah, melainkan jiwa (soul) atau ruh dalam mengimplementasikan kurikulum yang ada. Berdasarkan materi yang disampaikan, terdapat lima pilar utama cinta yang diintegrasikan dalam ekosistem madrasah:

Cinta Allah (Spiritualitas): Mengubah rutinitas ibadah menjadi pengalaman spiritual yang bermakna, di mana guru berperan sebagai fasilitator meditasi dan pemandu refleksi.

Cinta Ilmu (Literasi): Mengaitkan aktivitas membaca sebagai jalan menemukan kebesaran Allah, bukan sekadar kewajiban akademik.

Cinta Lingkungan (Ekoteologi): Melalui program seperti “Jumat Bersih”, siswa diajak memandang alam sebagai manifestasi ciptaan Allah yang harus dijaga.

Cinta Diri dan Sesama (Kemanusiaan): Implementasi program 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun) untuk membangun ukhuwah dan kasih sayang terhadap diri sendiri (self-compassion).

Cinta Tanah Air (Nasionalisme): Memberikan makna spiritual pada upacara bendera dan narasi kebangsaan sebagai bagian dari iman (hubbul wathan minal iman).

Suasana IHT terasa hidup ketika narasumber memberikan simulasi permainan memori angka untuk menguji daya ingat jangka pendek versus pemahaman mendalam. Hal ini menjadi analogi bahwa pembelajaran tanpa makna hanya akan menumpuk di ingatan jangka pendek dan mudah hilang, sedangkan Deep Learning akan membekas sebagai karakter.

Guru tidak lagi sekadar menjadi pengajar, melainkan bertransformasi menjadi teladan utama, pembangun koneksi, dan pemandu empati bagi peserta didik.

Kegiatan ditutup pada pukul 15.00 WIB dengan komitmen bersama para peserta untuk mulai menerapkan nilai-nilai KBC di kelas masing-masing. Diharapkan, IHT ini menjadi langkah awal menjadikan madrasah di Kota Salatiga sebagai rumah kedua yang nyaman, mencerdaskan, dan penuh cinta bagi para siswa. (Humas)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts